BAHASA MELAYU DIANGKAT MENJADI BAHASA INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Bahasa adalah alat komunikasi lingual manusia, baik secara lisan maupun tertulis. Bahasa juga merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk membuka wawasan bangsa terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Dengan kata lain, bahasa merupakan sarana untuk menyerap dan mengembangkan pengetahuan.

Selain itu, bahasa mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, karena dengan menggunakan bahasa seseorang juga dapat mengekspresikan dirinya dan  fungsi bahasa sangat beragam. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi, selain itu bahasa juga digunakan sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahasa memang sangat penting digunakan, karena bahasa merupakan simbol yang dihasilkan menjadi alat ucap yang digunakan oleh sesama masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari dan semua aktifitas yang kita lakukan menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa secara lisan maupun secara tulisan dan bahasa tubuh.

1.2  Rumusan Masalah

Mengapa  bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia?

1.3  Tujuan

Untuk mengetahui bahasa Melayu dapat diangkat menjadi bahasa Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia. Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu Kuno berasal dari abad ke-7 Masehi, dan tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di bagian selatan Sumatera dan wangsa Syailendra di beberapa tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan aksara Pallawa.

Selanjutnya, bukti-bukti tertulis bermunculan di berbagai tempat, meskipun dokumen terbanyak kebanyakan mulai berasal dari abad ke-18. Sejarah penggunaan yang panjang ini tentu saja mengakibatkan perbedaan versi bahasa yang digunakan. Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu ke dalam tiga tahap utama, yaitu Bahasa Melayu Kuna (abad ke-7 hingga abad ke-13), bahasa Melayu Klasik yang ditulis dengan huruf Jawi (sejak abad ke-15) dan bahasa Melayu Modern (sejak abad ke-20).

Walaupun demikian, tidak ada bukti bahwa ketiga bentuk bahasa Melayu tersebut saling bersinambung. Selain itu, penggunaan yang meluas di berbagai tempat memunculkan berbagai dialek bahasa Melayu, baik karena penyebaran penduduk dan isolasi maupun melalui kreolisasi.Selepas masa Sriwijaya, catatan tertulis tentang dan dalam bahasa Melayu baru muncul semenjak masa Kesultanan Malaka (abad ke-15). Laporan Portugis dari abad ke-16 menyebutkan mengenai perlunya penguasaan bahasa Melayu untuk bertransaksi perdagangan. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Portugis di Malaka dan munculnya berbagai kesultanan di pesisir Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, serta selatan Filipina, dokumen-dokumen tertulis di kertas dalam bahasa Melayu mulai ditemukan.

Surat-menyurat antarpemimpin kerajaan pada abad ke-16 juga diketahui telah menggunakan bahasa Melayu karena bukan penutur asli bahasa Melayu, mereka menggunakan bahasa Melayu yang disederhanakan dan mengalami percampuran dengan bahasa setempat yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah menggunakan huruf Arab (kelak dikenal sebagai huruf Jawi) atau juga menggunakan huruf setempat seperti hanacaraka Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern  yang dimulai ketika Raja Ali Haji, sastrawan  istana dari Kesultanan Riau Lingga yang secara sistematis menyusun kamus eka bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa) yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama) pada pertengahan abad ke-19.

Perkembangan berikutnya terjadi ketika sarjana-sarjana Eropa (khususnya Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis karena menganggap penting menggunakannya dalam urusan administrasi. Hal ini terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Bahasa Melayu Modern dicirikan dengan penggunaan alfabet Latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat populer bahasa ini. Di Indonesia, pendirian Balai Pustaka (1901) sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya yaitu  bahasa Melayu Riau, dimana kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya bahasa Melayu Balai Pustaka atau bahasa Melayu van Ophuijsen. Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk digunakan di Hindia-Belanda. Ia juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, bahasa Melayu van Ophuijsen ini kemudian dikenal luas di kalangan orang-orang pribumi dan mulai dianggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi diambilnya bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia :

  1. Bahasa melayu adalah bahasa sederhana dan komunikatif sehingga dijadikan bahasa yang menjadi ciri khas bagi perdagangan dan pelayanan di pelabuhan Indonesia maupun di negara-negara luar Indonesia.
  2. Bahasa melayu tidak mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh bahasa lain.
  3. Bahasa Melayu dijadikan bahasa kebudayaan.

Dari penjelasan diatas bahasa Melayu sangat berperan penting dalam terbentuknya bahasa Indonesia, hal ini dilihat dari  bahasa Melayu Kuno sudah ada sejak abad 7 Masehi di Kerajaan Sriwijaya. Selain itu bahasa Melayu mempunyai peranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan di Indonesia pada masa lalu. Bahasa ini tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi dibidang ekonomi (perdagangan), tetapi juga dibidang visual (alat komunikasi massa) dan politik (perjanjian antar kerajaan). Untuk itu, sejarah bahasa Melayu dapat diangkat menjadi bahasa Indonesia perlu diingat dan dapat dijadikan sebuah tolak ukur, bagaimana bahasa Indonesia itu sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia sehingga mempermudah berkomunikasi satu dengan yang lainnya dan tidak lagi perbedaan bahasa menjadi halangan untuk masyarakat untuk bersosialisasi. Selain itu dengan bahasa Indonesia, masyarakat akan mampu memajukan bangsa Indonesia sehingga tidak ada lagi perbedaan satu dengan yang lainnya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa keberadaan bahasa Indonesia erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Berbagai teori mengatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan varian dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia yang telah menjadi alat komunikasi sehari-hari di Indonesia mempunyai banyak kata serapan yang didapat dari bahasa Melayu. Maka sikap memiliki bahasa Melayu secara seutuhnya itu bukan merupakan sikap yang arif karena bahasa Melayu bukan milik satu atau dua bangsa tertentu.

Bahasa Melayu adalah bukti eksistensi peradaban dunia sebagai varian sosial dan varian regional, hal yang harus diperhatikan adalah bahasa Indonesia dan bahasa lain digunakan oleh kelompok orang yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula. Selain dipengaruhi oleh bahasa Melayu dan bahasa asing, perkembangan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan bangsa Indonesia sendiri.

3.2 Saran

            Bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu lebih banyak dikembangkan dalam masyarakat mengingat sejarah Bahasa Indonesia sendiri. Selain itu remaja kini sebaiknya lebih banyak belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar karena bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai diabaikan, terlihat kini banyaknya bermunculan bahasa-bahasa gaul yang kurang mendidik.

DAFTAR PUSTAKA

–          Kridalaksana, Harimurti. 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia. ( diakses pada tanggal 7 Maret 2013 )

–          Kridalaksana, Harimurti (ed). 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia:Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta:Penerbit Kanisius. ( diakses pada tanggal 7 Maret 2013 )

–          http://danielraka.wordpress.com/2010/11/09/kenapa-bahasa-melayu-diangkat-sebagai-bahasa-indonesia/  ( diakses pada tanggal 7 Maret 2013 )

LINGKUNGAN PEMASARAN DAN SISTEM INFORMASI PEMASARAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pemasaran merupakan bagian fungsi yang lebih berurusan dengan pelanggan dibandingkan fungsi bisnis lainya. Berdasarakn definisi klasik pemasaran merupakan kemampuan atau kegiatan dari aktivitas bisnis yang mengarahkan barang barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Namun dengan perkembangan zaman, khususnya di era modern ini, pemasaran telah mengalami evolusi yang bukan hanya mendasarakan pada kegiatan untuk menyalurkan barang dari tangan produsen ke konsumen. Menurut konsep modern saat ini, pemasaran pada intinya adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk serta nilai dengan pihak lain.Penyaluran nilai dan kepuasan merupakan target utama bagi seorang manajer pemasaran. Dalam hal ini seorang manajer harus mampu memberikan keunggulan dalam produk mereka untuk bisa diterima oleh pelanggan namun seorang manajer pemasaran tersebut harus dituntut untuk menggunakan sumber daya perusahaan seefektif mungkin. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi manajer tersebut. Lain halnya dengan tuntutan-tuntutan lain yang dibebankan pada manajer pemasaran yang biasanya datang dari luar manajemen pemasaran itu sendiri. Hal ini biasanya datang dari lingkungan yang disebut Lingkungan Pemasaran yang secara bersamaan memberikan tantangan dan peluang secara bersamaan.

Dari tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh lingkungan pemasaran,maka manajer pemasaran dan bawahanya harus mampu menghadapinya secara bersamaan. Dalam kondisi yang demikian, manajer harus mampu memberikan nilai dan memenuhi kepuasan bagi pelangganya. Hal-hal yang diberikan pada tersebut merupakan keunggulan yang harus terus-menrus bisa dipertahankan. Keunggulan-keunggulan tersebut bersumber dari bagaimana manajemen pemasaran mampu mendapatkan informasi serta mengolah informasi tersebut mampu dijadikan menjadi aset strategis dan alat pemasaran yang penting. Maka dari itu dibutuhkanlah kecermatan dalam Mengolah Informasi Pemasaran dalam manajemen pemasaran.

1.2     Rumusan Masalah

Bedasarkan latar belakang yang ada, ada masalah-masalah pokok yang timbul yaitu:

  1. Apa yang dimaksud dengan lingkungan pemasaran dalam suatu perusahaan?
  2. Lingkungan apa saja yang ada dalam lingkungan pemasaran ?
  3. Bagaimana kebutuhan informasi dalam pemasaran dan darimana sumber informasi tersebut?
  4. Bagaimana cara mengolah informasi agar dapat bermanfaat bagi perusahaan?

1.3  Tujuan Penulisan

Pembuatan makalah diharapkan agar dapat menyelesaikan beberapa masalah

yang ada dalam lingkungan pemasaran dan dalam mengolah informasi pemasaran.

Adapun tujuanya adalah:

  1. Agar dapat menjelaskan tentang hakikat lingkungan pemasaran serta menjelaskan pengaru lingkungan pemasaran terhadap kemampuan manajemen pemasaran.

2. Agar dapat menjelaskan hakikat informasi pemasaran serta menjelaskan bagaimana agar informasi pemasaran bisa menjadi keunggulan bagi manajemen pemasaran.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lingkungan Pemasaran

Lingkungan  pemasaran  adalah  tempat di  mana  perusahaan harus memulai  usahanya  dalam mencari berbagai peluang  dan memonitor ancaman-ancamannya.  Lingkungan  pemasaran  terdiri dari   semua pelaku dan kekuatan yang mempengaruhi kemampuan perusahaan  untuk melakukan  transaksi  secara efektif dengan pasar  sasaran. Perusahaan harus terus melakukan pengamatan secara terus menerus dan beradaptasi dengan lingkungan yang bersifat kompleks dan terus berubah-ubah. Dengan mempelajari lingkungan, perusahaan dapat menyesuaikan strategi perusahaan untuk memenuhi tantangan dan peluang pasar yang baru.

Selain itu dalam melakukan kegiatan pemasaran, suatu produsen harus memperhatikan lingkungan pemasarannya guna menentukan strategi yang tepat untuk memasarkan produknya sehingga pemasaran tersebut bisa berjalan dengan maksimal.

2.2 Jenis-Jenis Lingkungan Pemasaran

Ada 2 jenis lingkungan pemasaran pada suatu perusahaan, yaitu Lingkungan Mikro Perusahaan dan Lingkungan Makro perusahaan.

2.2.1 Lingkungan Mikro Perusahaan

Lingkungan mikro perusahaan merupakan adanya beberapa pelaku yang dekat dengan perusahaan dan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melayani pelanggannya. Dimana lingkungan ekonomi mikro ini terdiri dari:

  1. Perusahaan

Dimana dalam hal merancang rencana pemasaran, manajemen pemasaran memperhitungkan kelompok dalam perusahan seperti manajemen puncak, keuangan, riset dan pengembangan, pembelian, operasi, akuntasi. Semua kelompok saling berhubungan membentuk lingkungan internal. Kelompok-kelompok ini bekerja sama secara harmonis untuk memberikan nilai dan kepuasan pelanggan yang unggul.

  1. Pemasok

Para pemasok adalah perusahaan-perusahaan dan individu yang menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh perusahaan dan para pesaing untuk memproduksi barang dan jasa tertentu. Pemasok membentuk hubungan penting dalam keseluruhan system penghantar nilai perusahaan. Masalah pemasok sangat mempengaruhi pemasaran karena apabila pemasok masalah akan mengurangi penjualan perusahaan dan mengurangi nilai kepuasan pelanggan, sehingga manajer pemasaran perlu mengawasi harga-harga bahan  baku karena kenaikan bahan baku bisa mempengaruhi harga jual dari produk yang akhirnya akan mengurangi pemasaran yang dimiliki oleh perusahaan.

  1. Perantara Pemasaran

Perantara Pemasaran adalah middleman yaitu perantara yang menghubungkan produsen dan konsumen, atau pedagang besar dan konsumen, seringkali perantara tersebut mengambil risiko besar dengan memesan dan menyimpan barang sebelum mereka memperoleh kontrak penjualan, biasanya mereka membeli dengan jumlah besar dan menjual secara eceran. Perantara pemasaran membantu perusahaan mempromosikan, menjual, dan mendistribusikan produknya ke pembeli akhir. Perantara pemasaran meliputi:

  • Penjual perantara adalah perusahaan saluran distribusi yang membantu perusahaan menemukan pelanggan atau melakukan penjualan untuk perusahaan. Penjual perantara diliputi pedagang grosir dan pengecer.
  • Perusahaan distribusi fisik membantu perusahaan menyimpan dan memindahkan barang-barang perusahaan dari titik asalnya ke tempat tujuan.
  • Agen jasa pemasaran adalah firma riset pemasaran, agen periklanan, perusahaan media dan firma konsultan pemasaran yang membantu perusahaan menetapkan target dan mempromosikan produk perusahaan pada pasar secara tepat.
  1. Pasar Pelanggan

Pelanggan  merupakan individu atau instansi,perusahaan yang membeli barang atau jasa yang dihasilkan dalam ekonomi. Perusahaan harus mempelajari lima jenis pasar pelanggan secara lebih dekat:

  • Pasar Konsumen terdiri dari perorangan dan keluarga yang membeli barang dan  jasa untuk konsumsi pribadi.
  • Pasar Bisnis membeli barang dan jasa untuk memproses lebih lanjut atau untuk digunakan dalam proses produksi perusahaan.
  • Pasar Penjual Perantara membeli barang dan jasa untuk dijual kembali demi mendapatkan laba.
  • Pasar Pemerintah terdiri dari badan-badan pemerintah yang membeli barang dan jasa untuk menghasilkan pelayanan umum.
  • Pasar Internasional terdiri dari para pembeli di negara lain, termasuk konsumen, produsen, penjual perantara, dan pemerintah.
  1. Masyarakat

Masyarakat umum dapat memperlancar dan menghambat kemampuan organisasi untuk mencapai sasarannya. Hubungan dengan masyarakat umum perlu dipahami sebagai pelaksana kegiatan pemasaran yang luas. Masyarakat umum menjadi sangat penting bagi perusahaan karena masyarakat umum akan memberikan dampak kemampuan organisasi perusahaan dalam mencapai sasarannya. Sebuah organisasi bukan hanya harus memperhatikan para pesaingnya dalam upaya memuaskan pasar sasarannya, tetapi juga memperhatikan sejumlah besar lapisan masyarakat umum yang menaruh perhatian. Apakah mereka itu menerima metode-metode perusahaan tersebut dalam menjalankan usahanya atau tidak. Karena kegiatan organisasi mempengaruhi minat kelompok lain, kelompok-kelompok tersebut menjadi masyarakat umum yang amat penting bagi oganisasi.

  1. Para Pesaing

Jarang sekali suatu organisasi hanya sendirian dalam usahanya melayani sekelompok pasar pelanggan. Usahanya untuk membangun sistem yang efisien guna melayani pasar itu disaingi oleh usaha serupa dari pihak lain. Konsep pemasaran yang berhasil apabila perusahaan dapat menyediakan nilai dan kepuasan pelanggan yang lebih besar daripada pesaing. Oleh karena itu, perusahaan harus menyesuaikan pemasaran dengan kebutuhan konsumen sasaran. Perusahaan juga harus memiliki strategi penawaran yang lebih kuat dari penawaran pesaing dalam pikiran konsumen. Sistem pemasaran perusahaan dikelilingi dan dipengaruhi oleh sekelompok pesaing. Para pesaing ini perlu diidentifikasi, dimonitor, dan dikalahkan untuk memperoleh dan mempertahankan kesetiaan pelanggan kepada perusahaan yang bersangkutan.

2.2.2   Lingkungan Makro Perusahaan

Lingkungan makro perusahaaan merupakan tempat di mana perusahaan harus memulai pencariannya atas peluang dan kemungkinan ancaman. Lingkungan ini terdiri dari semua pihak dan kekuatan yang mempengaruhi operasi dan prestasi perusahaan. Perusahaan perlu untuk memahami kecenderungan akan lingkungan saat ini. Lingkungan makro perusahaan terdiri dari enam yaitu :

  1. Lingkungan Demografis

Demografi adalah suatu studi yang memperlihatkan pertumbuhan penduduk dunia yang tinggi, perusahaan distribusi, umur, etnis,  lokasi, usia, jenis kelamin, lapangan kerja, pendidikan, jenis rumah tangga baru, pergeseran populasi secara geografi, dan perpecahan dari pasar masal menjadi pasar-pasar mikro dan data statistik lain. Lingkungan demografi menjadi minat utama perusahaan karena lingkungan demografis menyangkut masyarakat, dan masyarakat membentuk pasar.

  1. Lingkungan Ekonomi

Lingkungan ekonomi adalah factor-faktor yang mempengaruhi daya beli dan pola pengeluaran konsumen. Suatu bangsa mempunyai tingkat dan distribusi pendapatan yang sangat beragam. Lingkungan ekonomi juga memperlihatkan suatu perlambatan dalam pertumbuhan pendapatan riil, tingkat tabungan yang rendah dan hutang yang tinggi.

  1. Lingkungan Fisik

Kondisi lingkungan fisik sangat berpengaruh bagi suatu usaha yang akan menjalankan bisnisnya. Lingkungan fisik biasanya dikaitkan dengan kondisi lingkungan alam disekitar usaha serta infrastruktur yang tersedia. Pasar harus menyadari akan peluang dan tantangan yang timbul akibat kekurangan bahan baku, biaya energi yang meningkat, tingkat polusi yang meningkat dan peran pemerintah yang berubah dalam perlindungan lingkungan. Lingkungan alam memperlihatkan kekurangan potensial dari bahan baku tertentu, biaya energi yang tidak stabil, tingkat populasi yang meningkat.

  1. Lingkungan Teknologi

Setiap teknologi merupakan suatu kekuatan yang dapat mendorong lajunya perkembangan usaha tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang telah ditemukan. Teknologi merupakan peluang pembaharuan yang tidak terbatas, teknologi meningkatkan metode pengolahan yang lebih sempurna tetapi untuk jenis produk yang sifatnya khas, teknologi bukan merupakan faktor penunjang dan pendukung yang utama tetapi cara tradisional juga perlu tetap dipertahankan untuk menjamin keaslian/kealamianya.Lingkungan teknologi memperlihatkan perubahan teknologi yang semakin cepat, kesempatan inovasi yang tak terbatas, anggaran riset dan pengembangan yang tinggi, konsentrasi pada perbaikan kecil daripada penemuan besar, dan pengaturan yang meningkat terhadap perubahan teknologi.

  1. Lingkungan Budaya

Pengaruh membeli juga ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang terjadi pada setiap orang dan langsung ditiru oleh pihak lain. Kehadiran suatu produk dalam masyarakat serta diterima atau tindakannya yang baru sangat dipengaruhi oleh kultur masyarakat setempat. Lingkungan budaya juga dapat menciptakan peluang yang sangat besar bagi sebuah perusahaan. Lingkungan budaya memperlihatkan kecenderungan jangka panjang menuju realisasi diri, kepuasan langsung, dan orientasi yang lebih sekuler.

  1. Lingkungan Politik

Keputusan-keputusan pemasaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan perundang-undangan yang berlaku dan sikap pemerintah yang mempengaruhi dan membatasi gerak usaha perusahaan. Lingkungan ini terbentuk oleh hukum-hukum, lembaga pemerintah, dan kelompok penentang yang mempengaruhi dan membatasi gerak-gerik berbagai organisasi dan individu dalam masyarakat.Lingkungan politik memperlihatkan pengaturan bisnis yang substansial, peranan badan pemerintah yang kuat, dan pertumbuhan kelompok kepentingan umum. Lingkungan budaya memperlihatkan kecenderungan jangka panjang menuju realisasi diri, kepuasan langsung, dan orientasi yang lebih sekuler.

2.3        Sistem Informasi Pemasaran

Sistem informasi pemasaran adalah kegiatan peseorangan dan organisasi yang memudahkan dan mempercepat hubungan pertukaran yang memuaskan dalam lingkungan yang dinamis melalui penciptaan pendistribusian promosi dan penentuan harga barang jasa dan gagasan. Sistem informasi pemasaran selalu digunakan oleh bagian pemasaran dalam sebuah perusahaan untuk memasarkan produk-produk perusahaan tersebut. Sistem informasi ini merupakan gabungan dari keputusan yg berkaitan dengan 4P yaitu:

  • Ø Produk apa yang dibeli pelanggan untuk memuaskan kebutuhannya.
  • Ø Promosi berhubungan dengan semua cara yang mendorong penjualan.
  • Ø Place berhubungan dengan cara mendistribusikan produk secara fisik kepada pelanggan melalui slauran distribusi.
  • Ø Price terdiri dari semua element yang berhubungan dengan apa yang dibayar oleh pelanggan.

2.4     Kebutuhan Informasi Pemasaran dan Sumber Informasi Pemasaran

Dalam pasar yang kompleks dan berubah dengan cepat saat ini, manajer pemasaran memerlukan informasi yang lebih banyak serta lebih baik untuk membuat keputusan yang efektif dan cepat. Sehingga kebutuhan informasi dalam proses pemasaran sangatlah penting. Sistem informasi pemasaran berinteraksi dengan manajer untuk menilai kebutuhan informasi. Dengan  menilai kebutuhan  knformasi informasi pemasaran yang baik akan menyeimbangkan antarainformasi yang ingin dimiliki oleh manajer dengan apa yang seharusnya mereka butuhkan dan apa yang layak ditawarkan dan guna lebih mempercepat pengenalan akan produk yang dipasarkan.

Tahap selanjutnya, sistem tersebut mengembangkan informasi yang dibutuhkan dari data internal perusahaan aktivitas intelijen pemasaran, riset pemasaran, dan penelitian informasi.Terakhir,sistem informasi pemasaran mendistribusikan informasi kepada para manajer dengan bentuk yang tepat pada saat yang tepat untuk membantu mereka membuat keputusan pemasaran yang lebih baik.

2.5     Riset Pemasaran

Riset pemasaran sebagai fungsi yang menghubungkan yang memasarkan produk  dengan konsumen, pelanggan, dan publik lewat informasi. Informasi itu dipergunakan untuk mengetahui dan menentukan peluang serta masalah pemasaran, untuk menghasilkan, mempertajam, dan mengevaluasi tindakan pemasaran, untuk memantau kinerja pemasaran dan memperbaiki pemahaman mengenai proses pemasaran. Peneliti pemasaran terlibat dalam berbagai macam aktivitas, dari telaah potensi pasar dan pangsa pasar, untuk menilai kepuasan pelanggan dan tingkah laku membeli, untuk mempelajari aktivitas penetapan harga, produk, distribusi, dan promosi. Dalam proses riset pemasaran memiliki empat langkah yaitu:

–          Menetapkan permasalahan dan tujuan riset, dimana manajer pemasaran dan peneliti harus bekerja sama dengan erat untuk menetapkan permasalahan secara hati-hati, dan mereka harus menyepakati tujuan riset. Tujuan riset yaitu riset eksploratoris,riset deskriftif,riset kausal.

–          Mengembangkan perencanaan riset,yang menggambarkan secara garis besar sumber-sumber data yang ada dan menyatakan pendekatan riset yang spesifik, metode kontak yang sesuai, perencanaan pengambilan sampel, dan instrumen yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data baru.

–          Mengimplementasikan perencanaan riset yaitu mengubah perencanaan riset pemasaran menjadi tindakan nyata. Proses ini mencakup pengumpulan, pemrosesan, dan penganalisisan informasi.

–          Menginterpretasi dan melaporkan temuan interpretasi adalah tahapan yang penting pada proses pemasaran. Setelah melakukan riset, manajer pemasaran dapat mengambil keputusan yang tepat atas permasalahan yang terjadi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Lingkungan pemasaran pada dasarnya terbagi dalam 2 macam yaitu lingkungan mikro dan makro. Lingkungan-lingkungan tersebut memberikan ancaman dan kesempatan secara bersamaan. Ada yang bersifat relatif permanen dan jangka panjang, ada pula yang berubah-ubah, bersifat sementara, atau jangka pendek. Ada hubungan yang bersifat kerja sama, ada yang bersifat persaingan atau perbedaan kepentingan, tetapi ada pula yang berbentuk regulatif. Dewasa ini perlu diketahui bahwasanya dalam aktivitas pemasaran juga diperhatikan mengenai lingkungan jauh, yang dimana lingkungan jauh ini menggambarkan setting sosial-budaya di suatu negara atau wilayah, yang secara permanen memberikan pengaruh kepada perusahaan/organisasi. Analisis lingkungan jauh dikembangkan melalui tingkatan kekuatan utama dalam perusahaan yakni: demografi, ekonomi, alamiah, teknologi, politik, budaya.

Sistem informasi pemasaran mencakup orang, peralatan, dan prosedur untuk mengumpulkan, menyeleksi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendistribusikan informasi yang dibutuhkan secara tepat waktu dan akurat. Sistem informasi yang baik berawal dan berakhir pada  pengguna. Langkah-langkah dalam proses riset pemasaran mencakup pendefinisian masalah dan penetapan tujuan riset, yang dapat bersifat eksploratif, deskriptif, atau sebab akibat. Kemudian dilakukan penyusunan rencana riset pemasaran dengan mengumpulkan, memproses, dan menganalisis informasi.

3.2  Saran

                          Dimana perusahaan agar dapat lebih mengenal mengenai lingkungan pemasaran sehingga dalam memasarkan barang perusahaan akan dapat lebih mudah dan membangun dan mempertahankan hubungan yang berhasil dengan pelanggan sasaran. Selain itu perusahaan harus dapat memanfaatkan informasi guna mempermudah dalam proses pemasaran.

DAFTAR PUSTAKA

–          http://blog.ub.ac.id/arifianaccounting/2013/02/21/pengaruh-lingkungan-pemasaran-terhadap-kegiatan-pemasaran/

–          Armstrong G, Kotler P. 2001. Dasar-Dasar Pemasaran. Jakarta: Indeks, 2003

–          Ball D, dkk. 2007. International Business. Jakarta: Salemba Empat, 2007

–          http://yurindra.wordpress.com/analisis/sistem-informasi-pemasaran-2/

http://mulyajho.blogspot.com/2012/08/materi-sistem-informasi-pemasaran.html

 

PENANAMAN BIBIT POHON JATI BELANDA

KEGIATAN SOSIAL

  1. A.    JUDUL PROGRAM

Penanaman bibit pohon jati belanda untuk penghijauan lahan tandus di wilayah Tianyar Karangasem

 B.        LATAR BELAKANG MASALAH

            Kecamatan Kubu memiliki luas wilayah 181,89 km2 merupakan salah satu daerah paling kering (kritis) di Kabupaten Karangasem. Luas lahan kritis di Kecamatan ini kurang lebih 75% dari total luas wilayah, salah satunya di Desa Tianyar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: curah hujan yang  rendah, banyak pohon yang digunakan sebagai kayu bakar, dan merupakan daerah bekas letusan gunung Agung pada tahun 1963. Keadaan lahan tandus seperti ini dan ditambah dengan rendahnya tingkat pendidikan serta kurang tersedianya lapangan pekerjaan menyebabkan meluasnya kemiskinan di wilayah tersebut. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimiIliki juga mengakibatkan masyarakat kurang bisa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di luar. Kondisi ini juga diperburuk dengan lokasi beberapa desa yang terisolasi yang menyebabkan kurang terpenuhinya berbagai kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan sehat serta pendidikan yang layak.

Mata pencaharian utama masyarakat Tianyar, Karangasem terutama di sektor pertanian dan perternakan. Untuk sektor pertanian biasanya mengembangkan tanaman semusim seperti kacang-kacangan, ketela pohon, ketela rambat, jagung dan sebagainya. Jenis-jenis tanaman ini tidak optimal hasinya karena keadaan geografis yang relatif kering, tanah berbatu & berpasir dan kurangnya pasokan air terutama pada musim kemarau. Di sektor pertenakan, masyarakat memelihara unggas ayam, sapi, kambing  dan babi dalam skala kecil. Selain itu, masyarakat juga membuat kerajinan gula aren dan tuak. Masyarakat biasanya menjual hasil ternaknya setiap tahun untuk membayar pajak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan hanya bergantung pada sektor tersebut, maka penghasilan masyarakat relatif rendah. Hal ini mempengaruhi dalam pembangunan rumah yang kondisi kurang memadai, tidak terfikirkannya kesehatan pribadi dan lingkungan serta tidak mampu menjangkau pendidikan. Sehingga masyarakatnya banyak pula yang memilih merantau untuk  menjadi gepeng ke daerah-daerah di Bali.

Untuk itu perlu adanya penghijauan di daerah tandus Tianyar, Karangasem ini. Penanaman bibit  pohon jati belanda merupakan salah satunya karena sesuai karakter pohon ini kuat bertahan lama di daerah tandus dan cepat tumbuh besar.

Tanaman pohon jati belanda, tinggi lebih kurang 10 meter. Batang keras, bulat, permukaan kasar, banyak  alur, berkayu, bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun tunggal, bulat telur, permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 10-16 cm, lebar 3-6 cm, warna hijau. Bunga tunggal, bulat di ketiak daun, warna hijau muda. Buah kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hitam. Pohon jati belanda ini sangat mudah untuk dikembangbiakan karena pemeliharaannya hanya dengan pemupukan, pengairan, penyiangan, pandangiran dan pemberantasan hama penyakit. Sehingga jika dilakukannya penanaman bibit pohon jati ini di daerah tandus Tianyar, Karangasem maka masyarakat akan sangat mudah dalam ikut menjaga pemeliharaan pohon tersebut nantinya.

Pohon jati belanda memberikan manfaat tinggi bagi kehidupan masyarakat yakni daunnya untuk makanan ternak, kayu untuk bahan bangunan dan dapat berfungsi  penghijauan kawasan sebagai penyimpan air.  Selain itu, pohon jati belanda ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sehingga penghijauan dengan menanam pohon ini juga mampu memberdayakan masyarakatnya dibidang ekonomi sosial.

Proses pengolahan lahan dan penanaman

  1. Persiapan Lahan

Lahan yang akan ditanami dengan pohon jati belanda. Lahan tersebut  dibersihkan dari semak-semak belukar,sampah-sampah dan ranting yang ada disekitar sana.

  1. Pembuatan Lubang

Setelah lahan bersih dilakukan pengukuran jarak jati belanda untuk di tanam. Jarak penanaman  adalah 2 x 2 meter. Tanah digali dengan ukuran lebar lubang adalah 40 x 40 cm dengan kedalaman 40 cm. Tanah bagian atas dicampur dengan kurang lebih 5 kg pupuk kandang, diaduk-aduk sampai rata dan kembalikan kebagian dasar lubang.

  1. Penanaman
    Lepaskan polybag tanaman kemudian tanam bibit jati belanda ditengah-tengah lubang yang telah dipersiapkan, lalu tutup dengan tanah bagian bawah yang tidak tercampur apapun.
  2. Pemberian vaksin

Vaksin dicampur dengan air, kemudian disiramkan pada tiap pohon jati yang baru ditanam. Usahakan vaksin yang telah dicampur air tersebut sampai kedalam tanah. Pemberian vaksin dilakukan setelah pohon jati ditanam antara 1 s.d 2 minggu.

Dengan kemampuan khusus untuk menjaga siklus klimatologis di daerah tempat pertumbuhannya, tanaman jati belanda ini merupakan penyumbang penting bagi terjadinya kelangsungan ekosistem yang secara natural. Dibuktikan dengan gugur daun di musim kemarau mengalirkan cadangan air tanah, dan kembali berdaun lebat saat datang musim hujan.

  1. C.       PERUMUSAN MASALAH

            Dalam program ini adalah bagaimana penanaman pohon yang dapat tumbuh di lahan yang tandus untuk meningkatkan penghijauan lahan tandus dan meningkatkan sumber daya alam yang ada di wilayah Tianyar, Karangasem.

  1. D.       TUJUAN PROGRAM

            Tujuan program ini adalah      :

Melakukan penanaman pohon yang dapat meningkatkan penghijauan lahan tandus dengan penanaman pohon jati belanda di wilayah Tianyar, Karangasem.

  1. E.        LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan dari program ini adalah penanaman pohon untuk penghijauan lahan tandus dengan menanam pohon jati belanda untuk  meningkatkan sumber daya alam di wilayah Tianyar, Karangasem.

  1. F.        KEGUNAAN PROGRAM

Kegunaan program penanaman pohon untuk penghijauan lahan tandus dengan menanam pohon jati belanda untuk  meningkatkan sumber daya alam di wilayah Tianyar, Karangasem.

  1. Meningkatkan sumber daya alam dengan penanaman pohon jati belanda
  2. Melestarikan lingkungan di lahan yang tandus
  3. Memberdayakan masyarakat sekitar
  1. G.       TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi lingkungan yang tandus di Desa Tianyar memang sangat perlu diperhatikan karena hal ini berdampak pula pada keadaan ekonomi dan sosial masyarakat setempatnya. Sehingga masyarakatnya banyak yang merantau untuk menjadi gepeng. Untuk itu perlu adanya penghijauan yang dilakukan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang tandus tersebut yang sebenarnya memiliki potensi sumber daya alam yang cukup tinggi, salah satunya dengan penanaman bibit pohon jati belanda disana. Penanaman bibit pohon jati belanda selain untuk penghijauan, juga dapat untuk pemberdayaan masyarakat Desa Tianyar karena pohon jati belanda ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Ini pernah dibuktikan dengan dilakukannya hal yang sama di Desa Sukerena, Kubu Karangasem, dan hal itu sangat menarik masyarakat disana untuk mengembakbiakannya.

  1. H.        METODE PELAKSANAAN PROGRAM
  1. 1.      Tahap pra pengiriman proposal

Tahap-tahap yang dilakukan meliputi:

a. Pengumpulan Fakta

Tahap ini adalah untuk mengumpukan fakta, dimana setelah penanaman ini dilakukan masyarakat dapat ikut menjaga kelestarian lingkungan

b. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Pada tahap ini kami mencoba merumuskan dan memberikan batasan pada permasalahan yang sudah kami miliki pada saat mengumpulkan fakta seperti kemampuan masyarakat nantinya dalam memelihara pohon jati belenda ini.

c. Study Literatur

Untuk dapat menjalankan kegiatan ini maka kami melakukan study literatur. Literatur yang kami gunakan berupa artikel-artkel dari beberapa website yang memuat tentang jenis-jenis pohon yang dapat ditanam di lahan yang tandus.

  1. 2.       Pasca Persetujuan Proposal/Pelaksanaan Program

Tahap ini meliputi beberapa kegiatan yaitu dengan cara sebagai berikut:

a. Survey Lokasi

Pada tahap ini mencari lokasi yang tepat untuk yang dijadikan lokasi penanaman pohon jati  belanda di salah satu daerah di Tianyar, dimana daerah tersebut memang sangat perlu diadakannya penanaman pohon.

b. Persiapan Kerangka Kerja

Kerangka kerja pelaksanaan yang akan dilakukan dibuat semaksimal mungkin dan dilengkapi dengan data-data yang telah ada. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan Pemerintah Desa Tianyar bahwa penanaman pohon jati belanda ini sangat bermanfaat untuk ditanam di lahan yang tandus.

c. Kerja sama dengan Pemerintah Desa Tianyar Kubu, Karangasem

Pada tahap dilakukan rencana kerja yang akan diajukan kepada pemerintah Desa Tianyar, Karangasem agar mendapat persetujuan dari pemerintah setempat untuk pelaksanaan program ini.

d. Monitoring

Monitoring ini dilakukan sebagai langkah akhir apakah masyarakat Desa Tianyar ikut beperan serta dalam menjaga pemeliharaan penanaman pohon jati belanda ini.

I. JADWAL KEGIATAN

No

Nama Kegitan

Minggu ke-

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

Survey tempat (lokasi)

X

 

 

 

 

 

 

2

Persiapan kerangka kerja

 

X

X  

 

 

 

3

Proses pendekatan kepada kepada pemerintah Desa Tianyar

 

 

X

X

 

 

 

4

Proses pelaksaan kegiatan

 

 

 

X

X

 

 

5

Monitoring kerangka kerja yang telah dilaksanakan dan pemeberian vaksin

 

 

 

 

X

X

X

6

Pembuatan laporan kerja

 

 

 

 

 

X

X

J.      RENCANA BIAYA

Biaya yang dikeluarkan selama 7 minggu ini dilaksanakan adalah    :

  1. Survey tempat                                                                                Rp. 500.000
  2. Penyiapan dan penggandaan modul                                               Rp. 50.000
  3. Pembuatan laporan                                                                         Rp. 50.000
  4. Pembelian alat  seperti :
  • Cangkul 10 buah x @ Rp. 50.000                                              Rp. 500.000
  • Alat ukur                                                                                     Rp. 100.000
  • Sabit 3buah x @ Rp. 30.000                                                      Rp. 90.000
  1. Pembelian bahan seperti :
  • Ø Bibit pohon jati belanda 500 pohon x @ Rp. 8.000                Rp. 4.000.000
  • Ø Pupuk kandang 500 pohon x 5kg perpohon x@Rp. 5.000    Rp. 1.250.000
  • Ø Vaksin 500 pohon x 0,05 kg per pohon x@ Rp. 15.000        Rp. 375.000
  1. Monitoring                                                                                Rp. 300.000
  2. Dokumentasi kegiatan                                                              Rp. 100.000

 

Total pengeluaran                                                                              Rp. 7.315.000

  1. K.     DAFTAR PUSTAKA

Kami mendapatkan referensi dan pengetahuan- pengetahuan yang mengacu pada kegiatan sosial yang akan kami laksanakan ini seperti :

KELOMPOK SOSIAL

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Kelompok sosial merupakan kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat.Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.

Berkumpul merupakan salah satu kebutuhan manusia modern sebagai realitas kehidupan sosial manusia. Sebagai mahluk sosial, manusia akan selalu hidup dalam kelompok tertentu.Hal ini karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa interaksi dengan orang lain. Dengan adanya hubungan timbal balik dalam suatu kelompok masyarkat maka manusia akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

1.2. Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk:

v Tujuan umum

  1. Untuk mengetahui contoh- contoh kelompok sosial yang ada di daerah tempat tinggal.

2. Untuk mengetahui identifikasi kelompok- kelompok sosial dengan macam- macam kelompok sosial.

  1. Untuk mengetahui kegiatan yang manfaat kelompok sosial yang ada di daerah tempat tinggal.
  2. Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan kelompok sosial tersebut.

v Tujuan khusus

  1. Untuk menambah wawasan bagi para pembaca mengenai kelompok sosial.
  2. Dengan adanya laporan ini diharapkan menjadi tolak ukur bagi kita, bagaimana bersikap dalam suatu kelompok sosial.

BAB 2

ISI

    Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, akan tetapi dia adalah makhluk yang telah mempunyai naluri untuk hidup dengan manusia lain. Kelompok-kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan tersebut antara lain menyakut kaitan timbal-balik yang mempengaruhi dan suatu kesadaran untuk saling tolong menolong Kelompok sosial mempunyai beberapa syarat antara lain:

1.      Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.

2.      Ada hubungan timbal-balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.

3.      Terdapat suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. faktor tadi dapat merupakan nasib, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideology politik yang sama dan lain-lain.

4.      Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.

5.      Besistem dan berproses.

2.1.     PENDEKATAN SOSIOLOGIS TERHADAP KELOMPOK-KELOMPOK SOSIAL

Seorang sosiolog di dalam menelaah masyarakat manusia akan banyak berhubungan dengan kelompok sosial, baik yang kecil seperti kelompok keluarga, ataupun kelompok besar seperti masyarakat desa, masyarakat kota, bangsa dan lain. hampir semua manusia merupakan kelompok sosial yang dinamakan keluarga. Walaupun anggotanya menyebar, tapi pada waktu tertentu mereka pasti akan berkumpul. Bila mereka berkumpul, terjadilah tukar-menukar pengalaman di antara mereka. Pada saat demikian, terjadi bukanlah pertukaran pengalaman semata, akan tetapi para anggota keluarga tersebut mungkin telah mengalami perubahan-perubahan, walaupun sama sekali tidak disadari. Saling tukar menukar pengalaman mempunyai peranan besar di dalam pembentukan kepribadian orang-orang yang bersangkutan.Manusia merupakan makhluk yang tediri dari jasmaniah dan rohaniah.Manusia mempunyai naluri untuk senantiasa berhubungan dengan sesamanya. Manusia mempunyai pola berpikir yang akan mempengaruhi sikapnya.

2.2 Macam- macam kelompok sosial yang telah kami identifikasi:

  1. In Group dan Out Group
  2. Primary Group dan Secondary Group
  3. Paguyuban dan Patembayan
  4. Membership Group dan Reference Group
  5. Formal Group dan Informal Group
  6. Kelompok Okupasional dan Kelompok Volunteer

2.3. Identifikasi Kelompok Sosial Menurut Lingkungan Sekitar Tempat Tinggal

Kami kelompok 7 melakukan pengamatan disekitar lingkungan tempat tinggal kami, yaitu Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

Pengamatan yang kami lakukan terkait keberadaan kelompok- kelompok sosial dan kegiaatan- kegiatan yang biasa dilakukan.seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia tidak akan bisa lepas dari keberadaan kelompok sosial disekelilingnnya. berikut merupakan hasil pengamatan kelompok kami:

  1. 1.      Jenis Kelompok Sosial In Group

In Group merupakan suatu perasaan perikatan antara satu orang dengan orang lain dalam suatu kelompok sosial tertentu. Perasaan tersebut sangat kuat sehingga membentuk suatu perilaku – perilaku sosial tertentu seperti : Solidaritas, kesediaan berkorban, kerja sama, konformitas, obediance.

Di lingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok In Group, contohnya “kami”, dimana salah satu diantara kami  sebagai bagian dari anggota Sekaa Teruna Teruni yang bernama “STT Putra Sesana”. Karena kita merasa sebagai anggota STT, maka kita akan mengidentifikasikan diri kita untuk terjun langsung ke kegiatan STT tanpa ada rasa paksaan.

  1. 2.      Jenis Kelompok Sosial Out Group

 

Out Group atau Out-side feeling, seseorang merasa bukan bagian dari kehidupan kelompok. Out-group feeling selalu ditandai munculnya perilaku antogonistik dan antipati.Sehingga muncul gejala prejudiace, paranoid, etnocentristic, non koperatif, lalai, dan sebagainya.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Out Group contohnya adalah “mereka” yang tidak termasuk anggota STT, sehingga “mereka” tidak perlu melakukan kegiatan yang ada hubungannya dengan STT. Contohnya: di Desa Bakas terdapat tempat rafting, dimana ada beberapa pekerjanya yang tergolong muda yang berasal dari luar Desa Bakas, pekerja ini tinggal di desa Bakas untuk sementara (mengekost). Pekerja tersebut tidak diwajibkan masuk ke dalam anggota STT dan juga tidak mengikuti kegiatan yang ada hubungannya dengan STT.

  1. 3.      Jenis Kelompok Sosial Primary Group

 

Kelompok sosial yang paling sederhana, dimana anggotanya saling mengenal, dimana ada kerja sama yang erat.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Primary Group, contohnya adanya kelompok Subak di Desa Bakas yang anggotanya merupakan masyarakat setempat, dimana kelompok tersebut saling bekerja sama untuk meningkatkan pertanian di Desa Bakas itu sendiri.

  1. 4.      Jenis Kelompok Sosial Secondary Group

Kelompok yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu erat.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Secondary Group, contohnya hubungan dari adanya Bakas Levi Rafting dengan masyarakat setempat. Dimana terjadi interaksi disaat adanya pembanguna tempat rafting, masyarakat memberikan izin dan setelah mendapat izin, pembangunan dan berjalannya kegiatan rafting merupakan tanggung jawab pihak rafting.

  1. 5.      Jenis Kelompok Sosial Paguyuban

Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan, ini bisa dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabat, rukun tetangga dan lain sebagainya.

Ciri pokok dari paguyuban adalah:

(1) Intimate ;hubungan menyeluruh yang mesra.

(2) Private ; hubungan bersifat pribadi untuk beberapa orang saja.

(3) Exclusive ; hubungn tersebut hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang lain di luar “kita”.

  • Tipe paguyuban ada 3, yaitu :

1)      Gemeinschaft by blood merupakan gemeinschaft yang berupa ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Contohnya adanya beberapa kawitan di Desa Bakas yang membagi masyarakatnya berdasarkan kasta masing-masing dan garis keturunananya.

2)      Gemeinschaft of place merupakan gemeinschaft yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggalnya sehingga dapat saling tolong-menolong. Contohnya di Desa Bakas memiliki beberapa banjar yang dipimpin oleh Kelian Dinas  seperti Banjar Delod Bakas, Banjar Bakas Kawan.  Selain itu seperti tetangga di sekitar rumah dalam satu banjar.

3)      Gemeinschaft of mind merupakan gemeinschaft yang terdiri atas orang-orang yang walaupun tidak memiliki hubungan darah ataupun tempat tinggalnya berdekatan, tetapi mereka memiliki jiwa dan pikiran yang sama karena ideologi yang dianut sama. Contohnya adanya kelompok pergerakan mahasiswa dalam upaya meingkatkan pertanian di Desa Bakas dan adanya didirikan sebuah tempat perkumpulan suatu partai politik.

  1. 6.      Jenis Kelompok Sosial Patembayan

 

Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis, biasanya terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal-balik seperti ikatan pedagang, organisasi yang luas atau industry.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Primary Group, contohnya interaksi antara anggota Subak Desa Bakas dengan pengepul sapi di Pasar Bringkit. Memiliki satu agenda yaitu menjual sapi yang di dapat dari petani Bakas dan menjual sapi-sapi tersebut ke pasar Bringkit .

  1. 7.  Jenis Kelompok Sosial Formal Group

Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan antara sesamanya.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Formal Group, contohnya di Bakas memiliki awig-awig yang tegas terhadap masyarakatnya seperti adanya pengenaan Dosa, yaitu pembayaran denda jika tidak bisa mengikuti kegiatan di Desa. Selain itu juga terdapat satu Sekolah Dasar No.2 Bakas yang terletak di Banjar Bakas Kawan, dengan peraturan yang mengikat semua warga sekolah.

  1. 8.  Jenis Kelompok Sosial Informal Group

Informal Group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur yang pasti terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang sehingga terjadi pertemuan kepentingan pengalaman.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Informal Group contohnya, Seka Teruni teruni yang bernama “STT Putra Sesana” yang sering mengadakan pertemuan setiap bulannya untuk kepentingan – kepentingan yang sifatnya untuk kemajuan di Banjar Bakas Kawan, Desa Bakas.

  1. 9.   Jenis Kelompok Sosial Membership Group

Membership group merupakan suatu kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Membership Group contohnya, seorang anggota politik  di desa Bakasyang kebetulan menjadi anggota DPR. Lembaga DPR inilah membership untuk individu tersebut.

  1. 10.   Jenis Kelompok Sosial Reference Group

Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan  bagi seseorang untuk membentuk pribadi dan perilakunya.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok Reference Group contohnya, anggota DPR tadi memiliki tempat yaitu di DPR sebagai lembaga tetapi jiwa dan jalan pikirannya tetap terikat pada reference groupnya yaitu partainya.

  1. 11.  Jenis Kelompok Sosial Okupasional

 

Kelompok okupasional merupakan kelompok yang terdiri dari orang-orang yang melakukan pekerjaan sejenis, misalnya muncul kelompok seprofesi.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok sosial okupasional contohnya, yaitu adanya kelompok Subak, yang bernama kelompok Subak Delod Bakas. Kelompok ini merupakan kelompok yang terdiri dari petani-petani Desa Bakas, yang melakukan kegiatan- kegiatan pertanian.

  1. 12.  Jenis Kelompok Sosial Kelompok Volunter

Kelompok volonter merupakan mencakup orang-orang yang mempunyai kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat yang semakin luas daya jangkauannya tadi. Dengan demikian, maka kelompok volonter akan dapat memenuhi kepentingan anggotanya secara individu, tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara umum. Kelompok volonter itu mungkin dilandaskan pada kepentingan primer mencakup kebutuhan akan sandang, pangan dan papan, kebutuhan akan keselamatan jiwa dan harta benda, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan untuk dapat mengembangkan potensi diri, dan kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan sekunder misalnya adalah kebutuhan akan rekreasi.

Dilingkungan tempat tinggal kami, kelompok yang diidentifikasikan ke dalam kelompok sosial Volunter contohnya adanya seorang masyarakat Desa Bakas yang mendirikan panti asuhan yang bernama Panti Asuhan Dharma Jati II, Klungkung. Panti asuhan ini menampung anak-anak yang tidak memiliki orang tua, dan juga anak-anak Desa Bakas juga sering mendapat bantuan sandang dan pangan, hal ini karena banyak warga desa Bakas yang berpenghasilan kurang.

BAB III

ANALISIS

         Dari pengamatan kami dilingkungan sekitar tempat tinggal kami, kami menemukan bahwa ada banyak kelompok sosial yang tersebar. Berikut adalah hasil analisisnya

No

DAERAH YANG TERKAIT

JENIS KELOMPOK SOSIAL

CONTOH

1.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

IN GROUP

Contohnya “kami”, dimana salah satu diantara kami sebagai bagian dari anggota Sekaa Teruna Teruni yang bernama “STT Putra Sesana”. Karena kita merasa sebagai anggota STT, maka kita akan mengidentifikasikan diri kita untuk terjun langsung ke kegiatan STT tanpa ada rasa paksaan.

2.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

OUT GROUP

Contohnya adalah “mereka” yang tidak termasuk anggota STT, sehingga “mereka” tidak perlu melakukan kegiatan yang ada hubungannya dengan STT. Contohnya: di Desa Bakas terdapat tempat rafting, dimana ada beberapa pekerjanya yang tergolong muda yang berasal dari luar Desa Bakas, pekerja ini tinggal di desa Bakas untuk sementara (mengekost). Pekerja tersebut tidak diwajibkan masuk ke dalam anggota STT dan juga tidak mengikuti kegiatan yang ada hubungannya dengan STT.

3.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

PRIMARY GROUP

Contohnya adanya kelompok Subak di Desa Bakas yang anggotanya merupakan masyarakat setempat, dimana kelompok tersebut saling bekerja sama untuk meningkatkan pertanian di Desa Bakas itu sendiri.

4.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

SECONDARY GROUP

Contohnya hubungan dari adanya Bakas Levi Rafting dengan masyarakat setempat. Dimana terjadi interaksi disaat adanya pembanguna tempat rafting, masyarakat memberikan izin dan setelah mendapat izin,

5.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

PAGUYUBAN

Contohnya pada beberapa tipe paguyuban yang terdiri dari 3 tipe yaitu :

1). Gemeinschaft by blood merupakan gemeinschaft yang berupa ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Contohnya adanya beberapa kawitan di Desa Bakas yang membagi masyarakatnya berdasarkan kasta masing-masing dan garis keturunananya.

2).Gemeinschaft of place merupakan gemeinschaft yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggalnya sehingga dapat saling tolong-menolong. Contohnya di Desa Bakas memiliki beberapa banjar yang dipimpin oleh Kelian Dinas  seperti Banjar Delod Bakas, Banjar Bakas Kawan.  Selain itu seperti tetangga di sekitar rumah dalam satu banjar.

3).Gemeinschaft of mind merupakan gemeinschaft yang terdiri atas orang-orang yang walaupun tidak memiliki hubungan darah ataupun tempat tinggalnya berdekatan, tetapi mereka memiliki jiwa dan pikiran yang sama karena ideologi yang dianut sama. Contohnya adanya kelompok pergerakan mahasiswa dalam upaya meingkatkan pertanian di Desa Bakas dan adanya didirikan sebuah tempat perkumpulan suatu partai politik.

6.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

PATEMBAYAN

Contohnya interaksi antara anggota Subak Desa Bakas dengan pengepul sapi di Pasar Bringkit. Memiliki satu agenda yaitu menjual sapi yang di dapat dari petani Bakas dan menjual sapi-sapi tersebut ke pasar Bringkit

7.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

FORMAL GROUP

Contohnya di Bakas memiliki awig-awig yang tegas terhadap masyarakatnya seperti adanya pengenaan Dosa, yaitu pembayaran denda jika tidak bisa mengikuti kegiatan di Desa. Selain itu juga terdapat satu Sekolah Dasar No.2 Bakas yang terletak di Banjar Bakas Kawan, dengan peraturan yang mengikat semua warga sekolah.

8.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

INFORMAL GROUP

Contohnya, Seka Teruni teruni yang bernama “STT Putra Sesana” yang sering mengadakan pertemuan setiap bulannya untuk kepentingan – kepentingan yang sifatnya untuk kemajuan di Banjar Bakas Kawan, Desa Bakas

9.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

MEMBEERSHIP GROUP

Contohnya, seorang anggota politik  di desa Bakasyang kebetulan menjadi anggota DPR. Lembaga DPR inilah membership untuk individu tersebut.

10.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

REFERENCE GROUP

Contohnya, anggota DPR tadi memiliki tempat yaitu di DPR sebagai lembaga tetapi jiwa dan jalan pikirannya tetap terikat pada reference groupnya yaitu partainya.

11.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

KELOMPOK OKUPASIONAL

Contohnya, yaitu adanya kelompok Subak, yang bernama kelompok Subak Delod Bakas. Kelompok ini merupakan kelompok yang terdiri dari petani-petani Desa Bakas, yang melakukan kegiatan- kegiatan pertanian.

12.

Desa Bakas, Kabupaten Klungkung

KELOMPOK VOLUNTER

Contohnya adanya seorang masyaraka

Desa Bakas yang mendirikan panti asuhan

yang bernama Panti Asuhan Dharma Jati II,

Klungkung. Panti asuhan ini menampung

anak-anak yang tidak memiliki orang tua,

dan juga anak-anak Desa Bakas juga sering

mendapat bantuan sandang dan pangan, hal

ini karena banyak warga desa Bakas yang

berpenghasilan kurang.

BAB 4

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari pengamatan  yang kami lakukan bahwa di setiap daerah memiliki berbagai macam kelompok sosial yang memiliki kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda pula. Kelompok sosial tersebut dapat membantu kita sebagai manusia untuk dapat saling berinteraksi sesuai kebutuhan kita masing-masing. Namun kegiatan yang negatif, contohnya banjar

Dapat kami juga bahwa sebenarnya masyarakat Hindu Bali telah lebih dulu mengenal kelompok sosial seperti banjar, jauh sebelum adanya pengidenfikasian jenis dan macam kelompok sosial. Kelompok sosial juga digunakan untuk penggalangan dana untuk membangun sesuatu seperti pura.

Perkembangan kelompok sosial di masyarakat modern dan perkotaan cenderung disengaja sehingga terjadi perkembangan yang sangat cepat dan signifikan. Namun, masih banyak juga jenis kelompok  sosial yang berkembang secara alami yakni banjar dan subak. Ini dikarenakan kentalnya nuansa adat yang mebuat mereka tidak dapat mengubah selurh kebiasaannya secara total.

PENGARAHAN KEPEMIMPINAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pengorganisasian (organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan oganisasi, sumber daya – sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Dua aspek utama penyusunan struktur organisasi adalah dapartemenlisasi dan pembagian kerja. Hal ini akan tercermin pada struktur formal suatu orgabisasi, dan tampak atau ditunjukkan oleh suatu bagan organisasi. Pelaksanaan proses pengorganisasian yang sukses akan membuat suatu organisasi dapat mencapai tujuannya. Dalam proses pengorganisasian juga tidak lepas dari peran pemimpin yang memiliki jiwa kepimimpinan yang kuat dan tegas.

Karena dalam kenyataannya para pemimpin dapat mempengaruhimoral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka. Hamper semua orang mengatakan bahwa pemimpin yang efektif mempunyai sifat – sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan – sebagai contoh karisma, berpandangan kedepan, intensitas dan keyakinan diri.

Bagaimanapun juga, kemampuan dan keterampilan kepemimpinan, dalam pengarahan adalah factor penting dalam efektifitas manager. Bila organisasi dapat mengidentifikasi kualitas – kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menyeleksi pemimpin – pemimpin yang efektif akan meningkat. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasi perilaku dan teknik – teknik kepemimpinan yang efektif, organisasi barangkali akan dapat mempelajari berbagai perilaku dan teknik – teknik tersebut. Oleh karena itu akan dicapai pengembangan efektifitas personalia dan organisasi.

1.2  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat kita temukan dalam latar belakang di atas adalah :

  1. Apa saja dasar – dasar perilaku organisasi
  2. Bagaimana cara memahami perilaku kelompok
  3. Makna apa yang terkandung dalam motivasi dan bagaimana pengertiannya
  4. Bagaimana proses motivasi itu berjalan
  5. Serta bagaimana kerangka kerja konsepsual untuk memahami motivasi

1.3  Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah :

  1. Agar mahasiswa mengetahui dasar – dasar perilaku organisasi dalam rangka memahami perilaku kelompok
  2. Agar mahasiswa dapat menjelaskan apa makna dan pengertian dari motivasi
  3. Agar mahasiswa dapat memahami bagaimana proses motivasi itu berjalan dalam rangka mewujudkan kerangka kerja konsepsual untuk memahami motivasi

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Dasar – Dasar Perilaku Organisasi

Perilaku Organisasi adalah bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan, kelompok, & struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki kefektifan organisasi. Perilaku individu di dalam kelompok merupakan sesuatu yang lebih dari sekadar total jumlah dari setiap tindakan dengan cara mereka sendiri-sendiri. Kerika para individu berada dalam kelompok, mereka bertindak berbeda daripada ketika mereka sedang sendirian.

Kelompok didefenisikan sebagai dua atau lebih individu, yang berinteraksi dan saling tergantung antara satu dengan yang lain, yang bersama-sama ingin mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat berbentuk formal atau informasi. Kelompok formal maksudnya jika kita mendefenisikannya sebagai struktur organisasi, dengan memberikan penugasan pekerjaan yang membentuk kelompok tugas kelompok kerja. Dalam kelompok formal, perilaku yang harus ditunjukkan oleh seseorang ditentukan dan diarahkan untuk tujuan organisasi. Sebaliknya, kelompok informal merupakan aliansi yang tidak terstruktur atau tidak ditetapkan secara organisasional. Dalam lingkungan kerja, kelompok-kelompok semacam ini terbentuk secara alamiah sebagai suatu tanggapan terhadap kebutuhan untuk mengadakan kontak sosial.

Mengapa orang-orang bergabung dalam kelompok? Alasan manfaat keamanan dengan bergabung dalam suatu kelompok, para individu dapat mengurangi rasa ketidakamanan untuk “berdiri sendir”. Orang – orang merasa lebih kuat, memiliki lebih sedikit keraguanraguan pada diri sendiri, dan menjadi lebih resisten terhadap ancaman ketika mereka merupakan bagian dari suatu kelompok.

Status Masuknya ke dalam suatu kelompok dianggap penting karena kelompok memberikan pangakuan dan status bagi para anggotanya. Harga Diri Kelompok dapat memberikan perasaan akan berharganya seseorang. Disamping memberikan status pada mereka yang berada di luar kelompok tersebut, keanggotaan juga member tambahan perasaan berharga sebagai anggota dari kelompok itu sendiri. Afiliasi Kelompok dapat memenuhi kebutuhan sosial. Orang-orang menikmati interaksi yang reguler yang berasal dari keanggotaannya dalam kelompok. Bagi banyak orang, interaksi ‘on the job’ merupakan sumber utama bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka akan keanggotaan (afiliasi). Kekuasaan Apa yang tidak dapat dicapai secara individu seringkali mungkin terwujud melalui aksi kelompok. Jumlah yang banyak menyebabkan adanya kekuasaan. Pencapaian tujuan, Ada saat-saat dibutuhkannya lebih dari satu orang untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu ada kebutuhan untuk mengumpulkan banyak bakat, pengetahuan, atau kekuasan agar suatu pekerjaan dapat diselesaikan. Dari contoh-contoh tersebut, maka pihak manajemen akan mengandalkan penggunaan kelompok formal.

2.2  Memahami Perilaku Kelompok

Perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya. Ditilik dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.

Pendekatan yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku kelompok adalah; pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Berikut penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari; penekanannya, penyebab timbulnya perilaku, prosesnya, kepentingan masa lalu di dalam menentukan perilaku, tingkat kesadaran, dan data yang dipergunakan.

  1. 1.      Penekanan

Pendekatan kognitif menekankan mental internal seperti berpikir dan menimbang. Penafsiran individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting dari lingkungan itu sendiri.

Pendekatan penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan dipandang sebagai suatu sumber stimuli yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon perilaku.

Pendekatan psikoanalitis menekankan peranan sistem personalitas di dalam menentukan sesuatu perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sepanjang hanya sebagai ego yang berinteraksi dengannya untuk memuaskan keinginan.

  1. 2.      Penyebab timbulnya perilaku

Pendekatan kognitif, perilaku dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi tentang lingkungan.

Pendekatan reinforcement menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku.

Menurut pendekatan psikoanalitis, perilaku itu ditimbulkan oleh tegangan (tensions) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginan.

  1. 3.      Proses

Pendekatan kognitif menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses mental, yang saling menyempurnakan dengan struktur kognisi yang ada. Dan akibat ketidak sesuaian (inconsistency) dalam struktur menghasilkan perilaku yang dapat mengurangi ketidak sesuaian tersebut.

Pendekatan reinforcement, lingkungan yang beraksi dalam diri individu mengundang respon yang ditentukan oleh sejarah. Sifat dari reaksi lingkungan pada respon tersebut menentukan kecenderungan perilaku masa mendatang.

Dalam pendekatan psikoanalitis, keinginan dan harapan dihasilkan dalam Id kemudian diproses oleh Ego dibawah pengamatan Superego.

  1. 4.      Kepentingan masa lalu

Pendekatan kognitif tidak memperhitungkan masa lalu (ahistoric). Pengalaman masa lalu hanya menentukan pada struktur kognitif, dan perilaku adalah suatu fungsi dari pernyataan masa sekarang dari sistem kognitif seseorang, tanpa memperhatikan proses masuknya dalam sistem.

Teori reinforcement bersifat historic. Suatu respon seseorang pada suatu stimulus tertentu adalah menjadi suatu fungsi dari sejarah lingkungannya.

Menurut pendekatan psikoanalitis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang relatif penting bagi perilakunya. Kekuatan yang relatif dari Id, Ego dan Superego ditentukan oleh interaksi dan pengembangannya dimasa lalu.

  1. 5.      Tingkat kesadaran

Dalam pendekatan kognitif memang ada aneka ragam tingkatan kesadaran, tetapi dalam kegiatan mental yang sadar seperti mengetahui, berpikir dan memahami, dipertimbangkan sangat penting.

Dalam teori reinforcement, tidak ada perbedaan antara sadar dan tidak. Biasanya aktifitas mental dipertimbangkan menjadi bentuk lain dari perilaku dan tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apapun. Aktifitas mental seperti berpikir dan berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka, tetapi bukan berarti bahwa berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka.

Pendekatan psikoanalitis hampir sebagian besar aktifitas mental adalah tidak sadar. Aktifitas tidak sadar dari Id dan Superego secara luas menentukan perilaku.

  1. 6.      Data yang digunakan

Dalam pendekatan kognitif, data atas sikap, nilai, pengertian dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner.

Pendekatan reinforcement mengukur stimuli lingkungan dan respon materi atau fisik yang dapat diamati, lewat observasi langsung atau dengan pertolongan sarana teknologi.

Pendekatan psikoanalitis menggunakan data ekspresi dari keinginan, harapan, dan bukti penekanan dan bloking dari keinginan tersebut lewat analisa mimpi, asosiasi bebas, teknik proyektif, dan hipnotis.

2.3  Pengertian Motivasi

Memahami apa yang orang lain kerjakan pada pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan itu tidak mudah bagi seorang manager. Mengetahui tentang motivasi untuk memberikan pemikiran pada praktek sebagai manajer merupakan suatu teknis yang efektif untuk meningkatkan kinerja individu dalam sebuah perusahaan.

Motivasi itu berarti suatu usaha yang menyemangati atau menjadi sumber energi secara langsung dengann demi mempertahankan usaha seseorang. Motivasi yang tinggi pada seseorang akan mampu meningkatkan kinerja yang nantinya berdampak pada penerimaan pemasukan dengan target yang tinggi.

Untuk menjadi motivator yang efektif, manajer harus mengetahui apa kebiasaan individu yang perlu mendapat motivasi. Dalam hal ini, setidaknya manajer harus mampu memotivasi seseorang untuk mengikuti organisasi, memiliki loyalitas dan dedikasi terhadap organisasi, dan bekerja dengan maksimal. Selain itu juga agar mampu menampilkan apa yang terbaik dari pekerjaan individu di dalam perusahaan, yakni mendapatkan keluaran yang tinggi (produktivitas) dan kualitas yang tinggi. Banyak ide yang akan membantu manajer untuk memotivasi individu dalam berhubungan dengan lingkungan yang konstruktif.

Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan memilihara perilaku manusia.motivasi adalah subjek membungungkan karena motif tidak dapat diamati atau diukur sevara langsung, tetapi harus disimpulkan dari perilaku orang yang tampak. Motivasi merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu atau kegiatan yang dilakukannya sehingga ia dapat mencapai tujuannya. Menurut J.P. Chaplin Motivasi adalah suatu variabel perantara yang digunakan untuk menerangkan faktor-faktor dalam diri individu, yang dapat membangkitkan, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu. Motivasi berhubungan dengan kekuatan (dorongan) yang berada di dalam diri manusia. Motivasi tidak dapat terlihat dari luar. Motivasi dapat menggerakkan manusia untuk menampilkan suatu tingkah laku kearah pencapaian suatu tujuan. Tingkah laku dapat dilandasi oleh berbagai macam motivasi.

2.4  Motivasi dan Proses Motivasi

Perkembangan teori manajemen juga mencakup model – model atau teori – teori motivasi yang berbeda – beda. Berikut ini akan dibahas tiga diantara model – model motivasi dengan urutan atas dasar kemunculannya, yaitu model tradisional, model hubungan manusiawi, dan model sumber daya manusia. Pandangan manajer yang berbeda – beda tentang masing – masing model adalah penentu penting keberhasilan mereka dalam mengelola karyawan.

  1. 1.      Model tradisional

Model tradisional dari motivasi berhubungan dengan Frederick Taylor dan aliran manajemen ilmiah. Model ini mengisyratkan bahwa manajer menentukkan bagaimana pekerjaan – pekerjaan harus dilakukan dan digunakannya system pengupahan insentif untuk memotivasi para pekerja-banyak berproduksi, lebih banyak menerima penghasilan. Pandangan tradisional menganggap bahwa para pekerja pada dasarnya malas, dan hanya dapat termotivasi dengan penghargaan berwujud uang. Dalam banyak situasi pendekatan ini cukup efektif. Sejalan dengan meningkatnya efisiensi, karyawan yang dibutuhkan untuk tugas tertentu dapat dikurangi. Lebih lanjut, manajer mengurangi upah insentif. Pemutusan hubungan kerja menjadi hal yang biasa dan pekerja mencari keamanan/jaminan kerja daripada hanya kenaikan upah kecil dan sementara.

  1. 2.      Model hubungan manusiawi

Banyak praktek manajemen merasakan bahwa pendekatan tradisional tidak memadai. Elton Mayo dan para peneliti hubungan manusiawi lainnya menemukan bahwa kontak – kontak social karyawan pada pekerjaannya adalah juga penting dan bahwa kebosanan dan tugas – tugas yang bersifat pengulangan adalah factor – factor pengurang motivasi. Mayo dan lain – lainya juga percaya bahwa manajer dapat memotivasi bawahan melalui pemenuhan kebutuhan – kebutuhan social mereka dan membuat mereka merasa berguna dan penting. Sebagai hasilnya, para karyawan diberi berbagai kebebasan untuk membuat keputusan sendiri dalam pekerjaannya. Perhatian yang lebih besar diarahkan pada kelompok – kelompok kerja organisasi informal. Lebih banyak informasi disediakan untuk karyawan tentang perhatian manajer dan operasi organisasi.

  1. 3.      Model sumber daya manusia

Kemudian para teoritis seperti McGregor dan Maslow dan para peneliti seperti Argyris dan Likert, melontarkan kritik kepada model hubungan manusiawi, dan mengemukakan pendekatan yang lebih “sophisticated” untuk memanfaatkan karyawan. Model ini menyatakan bahwa para karyawan dimotivasi oleh banyak factor – factor – tidak hanya uang atau keinginan untuk mencapai kepuasan, tetapi juga kebutuhan berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti. Mereka beralasan bahwa kebanyakan orang telah dimotivasi untuk melakukan pekerjaan secara baik dan bahwa mereka tidak secara otomatis melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang tidak dapat menyenangkan. Mereka mengemukakan bahwa karyawan lebih menyukai pemenuhan kepuasan dari sesuatu prestasi kerja yang baik. Jadi, karyawan dapat diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk pembuatan keputusan – keputusan dan pelaksanaan tugas – tugas.

2.5  Kerangka Kerja Konsepsual Untuk Memahami Motivasi

Motivasi adalah juga subyek yang membingungkan karena motif tidak dapat diamati atau diukur secara langsung, tetapi harus disimpulkan dari perilaku orang yang tampak. Pada subbab papper ini kita akan belajar memahami kerangka kerja konsepsual melalui beberapa teori – teori motivasi untuk memahami seperti apa motivasi itu dilakukan. Teori – teori motivasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. 1.      Teori – teori petunjuk

Teori ini mengemukakan bagaimana memotivasi para karyawan. Teori – teori ini didasarkan atas pengalaman coba – coba. Factor – factor yang dipakai untuk motivasi telah banyak dibahas dibagian – bagian sebelumnya, sehingga teori – teori ini tidak diliput dalam teori – teori yang lainnya.

  1. 2.      Teori – teori isi

Teori ini kadang – kadang disebut teori – teori kebutuhan adalah berkenaan dengan pertanyaan – pertanyaan apa penyebab – penyebab perilaku atau memusatkan pada pertanyaan “apa” dari motivasi. Teori – teori yang sangat terkenal diantaranya hirarki kebutuhan dari psikolog Abraham H. Maslow. Menurut Maslow, manusia akan didorong untuk memenuhi kebutuhan yang paling kuat sesuai waktu, keadaan dan pengalaman yang bersangkutan mengikuti hirarki. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut.

v  Kebutuhan aktualisasi diri dan pemenuhan diri

Teoritis     : penggunaan potensi diri, pertumbuhan, pengembangan diri

Terapan    : menyelesaikan penugasan yang bersifat menantang, melakukan pekerjaan kreatif, pengembangan ketrampilan.

v  Kebutuhan harga diri

Teoritis      : status, kepercayaan diri, pengakuan, reputasi dan prestasi, apresiasi, kehormatan diri, penghargaan

Terapan     : kekuasaan, ego, promosi, hadiah, status, symbol, pengakuan, jabatan, penghargaan

v  Kebutuhan social

Teoritis      : cinta, persahabatan, perasaan memiliki dan diterima kelompok, kekeluargaan, asosiasi

Terapan     : kelompok – kelompok kerja formal dan informal, kegiatan – kegiatan yang disponsori perusahaan, acara peringatan

v  Kebutuhan keamanan dan rasa aman

Teoritis      : perlindungan dan stabilitas

Terapan     : pengembangan karyawan, kondisi kerja yang aman, serikat kerja, tabungan, uang pesangon, jaminan pension, asuransi, system penanganan keluhan

v  Kebutuhan fisiologis

Teoritis      : makan, minum, perumahan, seks, istirahat

Terapan     : ruang istirahat, udara bersih, air untuk minum, liburan, cuti, jaminan social, periode istirahat on the job

  1. 3.      Teori – teori proses

Teori ini berkenaan dengan bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan atau menjelaskan aspek “bagaimana” dari motivasi. Teori – teori yang termasuk teori proses adalah

v  Teori pengharapan

v  Pembentukan prilaku

v  Teori Porter – Lawler

v  Teori keadilan

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Manajer dapat membeli waktu karyawan. Manajer dapat membeli kemampuan phisik karyawan dan sebagainya. Tapi manajer tidak dapat membeli antusiasme, inisiatif, kesetiaan, penyerahan hati, jiwa dan akal budinya. Manajer harus memperoleh hal – hal tersebut,

Pernyataan diatas menggambarkan bahwa motivasi lebih insklusif dari sekedar aplikasi berbagai peralatan atau cara tertentu untuk mendorong peningkatan keluaran. Motivasi adalah juga filsafat tau pandangan hidup yang dibentuk berdasar kebutuhan dan keinginan karyawan. Jadi, penting diperhatikan oleh manajer bahwa teori – teori motivasi harus diguanakan secara bijaksana. Berbagai teori tidak memadai atau mencukupi untuk diterapkan secara meluas dan bahkan dapat menghasilkan konsekuensi – konsekuensi yang negative.

Manajer yang dapat melihat motivasi sebagai system, yang mencakup sifat – sifat individu, pekerjaan, dan situasi kerja dan memahami hubungan antara insentif, motivasi, dan produktifitas, merka akan mampu mempekirakan perilaku bawahannya. Hanya manajer yang mengetahui hal ini dan mengetahui bagaimana menerapkannya dapat mengharapkan realisasi peningkatan produktifitas dari para karyawan.

3.2  Saran – Saran

Adapun saran – saran yang dapat kami sampaikan terkait masalah diatas adalah

  1. Sebagai mahasiswa Universitas Udayana, ada baiknya kita memahami dasar – dasar kepemimpinan agar nantinya saat kita mengikuti organisasi tidak mengalami kesulitan.
  2. Sebagai mahasiswa Universitas Udayana, ada baiknya kita menerapkan motivasi dalam kehidupan sehari – hari, terutama untuk membangun diri yang lebih bersemangat dan bertanggung jawab.

Aside

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Pancasila sebagai dasar Negara, pedoman dan tolok ukur kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Tidak lain dengan kehidupan berpolitik, etika politik Indonesia tertanam dalam jiwa Pancasila. Kesadaran etika yang merupakan kesadaran relational akan tumbuh subur bagi warga masyarakat Indonesia ketika nilai-nilai Pancasila  itu diyakini kebenarannya, kesadaran etika juga akan lebih berkembang ketika nilai dan moral Pancasila itu dapat di terapkan kedalam norma-norma yang di berlakukan di Indonesia .

Pancasila juga sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai sehingga merupakan sumber dari segala penjabaran dari norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainya. Dalam filsafat Pancasila terkandung didalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional, sistematis dan komprehensif (menyeluruh) dan sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai, Oleh karena itu suatu pemikiran filsafat tidak secara langsung menyajikan norma-norma yang merupakan pedoman dalam suatu tindakan atau aspek praksis melainkan suatu nilai yan bersifat mendasar.

Nilai-nilai pancasila kemudian dijabarkan dalam suatu norma yang jelas sehingga merupakan suatu pedoman. Norma tersebut meliputi norma moral yaitu yang berkaitan dengan tingkah laku manusia yang dapat diukur dari sudut baik maupun buruk. Kemudian yang ke dua adalah norma hukum yaitu suatu sistem perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dalam pengertian inilah maka Pancasila berkedudukan sebagai sumber dari segala hukum di Indonesia, Pancasila juga merupakan suatu cita-cita moral yang luhur yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia sebelum membentuk negara dan berasal dari bangsa Indonesia sendiri sebagai asal mula (kausa materialis).

Pancasila bukanlah merupakan pedoman yang berlangsung bersifat normatif ataupun praksis melainkan merupakan suatu sistem nilai-nilai etika yang merupakan sumber hukum baik meliputi norma moral maupun norma hukum, yang pada giliranya harus dijabarkan lebih lanjut dalam norma-norma etika, moral maupun norma hukum dalam kehidupan kenegaraan maupun kebangsaan.

1.2 Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian etika ,politik dan etika politik?

2.   Apa saja prinsip etika politik?

3.      Apa definisi dimensi politisi manusia?

4.   Nilai-nilai apa yang tergandung dalam pancasila sebagai sumber etika politik ?

5.   Bagaimana pengertian  nilai, norma dan moral?

6.   Apa itu hierarkhi nilai?

7.     Bagaimana hubungan antara nilai, norma dan moral?

.

1.3 Tujuan

Tujuan dalam makalah ini adalah

1.     Untuk mengetahui pengertian nilai, norma dan moral dalam konteks pancasila sebagai etika politik.

2.     Dapat mengerti hubungan antara nilai, norma dan moral dalam konteks pancasila sebagai etika politik.

3.     Dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebagai sumber etika.

 

1.4 Batasan Permasalahan

Pancasila Sebagai Etika Politik :

– Pancasila berasal dari kata “panca” yang berarti lima dan “sila” berarti dasar. Jadi Pancasila merupakan dasar falsafah Negara Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

– Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral.

– Politik merupakan  bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses tujuan penentuan-penentuan tujuan dari sistem itu dan diikuti dengan pelaksanaan tujuan-tujuan itu.

                                                                       BAB 2

                                     PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Etika

Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika khusus. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-aaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah suatu ilmu yang membahasas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral terntentu atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno, 1987).

Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya dengan berbagai kehidupan manusia (Suseno, 1987). Etika khusus dibagi menjadi etika individual yang membahas kewajiban manusia terhadap diri sendir dan etika sosial merupakan kewajiban manusia terhadap manusia lain dalam hidup bermasyarakat, yang merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus.

2.2 Pengertian Politik

Pengertian politik berasal dari kata Politics yang memiliki makna bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses tujuan penentuan-penentuan tujuan dari sistem itu dan diikuti dengan pelaksanaan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu yang menyangkut seleksi antara beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang dipilih.

Untuk pelaksanaan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum, yang menyangkut pengaturan dan pembagian atau distributions dari sumber-sumber yang ada.  Untuk melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan itu diperlukan suartu kekuasaan, dan kewenangan yang akan dipakai baik untuk membina kerjasama maupun menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses ini. Cara-cara yang dipakai dapat bersifat persuasi, dan jika perlu dilakukan suatu pemaksaan. Tanpa adanya suatu paksaan kebijaksanaan ini hanya merupakan perumusan keinginan belaka (statement of intents) yang tidak akan pernah terwujud. Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals), dan bukan tujuan pribadi seseorang (privat goals). Selain itu politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok termasuk partai pplitik, lembaga masyarakat maupun perseorangan.

2.3  Pengertian Etika Politik

Sebagai salah satu cabang etika, khususnya etika politik termasuk dalam lingkungan filsafat. Filsafat yang langsung mempertanyakan praksis manusia adalah etika. Etika mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia. Ada bebagai bidang etika khusus, seperti etika individu, etika sosial, etika keluarga, etika profesi, dan etika pendidikan.dalam hal ini termasuk etika politik yang berkenaan dengan dimensi politis kehidupan manusia.

Etika berkaitan dengan norma moral, yaitu norma untuk mengukur betul salahnya tindakan manusia sebagai manusia. Dengan demikian, etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan hanya sebagai warga Negara terhadap Negara, hukum yang berlaku dan lain sebagainya.

Fungsi etika politik dalam masyarakat terbatas pada penyediaan alat-alat teoritis untuk mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab. Jadi, tidak berdasarkan emosi, prasangka dan apriori, melainkan secara rasional objektif dan argumentative. Etika politik tidak langsung mencampuri politik praktis. Tugas etika politik membantu agar pembahasan masalah-masalah idiologis dapat dijalankan secara obyektif.

Hukum dan kekuasaan Negara merupakan pembahasan utama etika politik. Hukum sebagai lembaga penata masyarakat yang normatif, kekuasaan Negara sebagai lembaga penata masyarakat yang efektif sesuai dengan struktur ganda kemampuan manusia (makhluk individu dan sosial). Jadi etika politik membahas hukum dan kekuasaan. Prinsip-prinsip etika politik yang menjadi titik acuan orientasi moral bagi suatu Negara adalah adanya cita-cita The Rule Of Law, partisipasi demokratis masyarakat, jaminan ham menurut kekhasan paham kemanusiaan dan sturktur kebudayaan masyarakat masing-masing dan keadaan sosial.

2.4 Lima Prinsip Dasar Etika Politik Pancasila

Pancasila sebagai etika politik maka mempunyai lima prinsip itu berikut ini disusun menurut pengelompokan Pancasila, karena Pancasila memiliki logika internal yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan dasar etika politik modern.

1.  Pluralisme

Pluralisme adalah kesediaan untuk menerima pluralitas, artinya untuk hidup dengan positif, damai, toleran, dan biasa/normal bersama warga masyarakat yang berbeda pandangan hidup, agama, budaya, adat. Pluralisme  mengimplikasikan pengakuan terhadap kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan mencari informasi, toleransi. Pluralisme memerlukan kematangan kepribadian seseorang dan sekelompok orang.

2.  Hak Asasi Manusia

Jaminan hak-hak asasi manusia adalah bukti Kemanusian yang adil dan beradab. Karena hak-hak asasi manusia menyatakan bagaimana manusia wajib diperlakukan dan wajib tidak diperlakukan. Jadi bagaimana manusia harus diperlakukan agar sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Karena itu, hak-hak asasi manusia adalah baik mutlak maupun kontekstual dalam pengertian sebagai berikut.

a.   Mutlak karena manusia memilikinya bukan karena pemberian Negara, masyarakat, melainkan karena pemberian Sang Pencipta .

b.    Kontekstual karena baru mempunyai fungsi dan karena itu mulai disadari, diambang modernitas di mana manusia tidak lagi dilindungi oleh adat/tradisi, dan seblaiknya diancam oleh Negara modern.

3. Solidaritas Bangsa

Solidaritas bermakna manusia tidak hanya hidup demi diri sendiri, melainkan juga demi orang lain, bahwa kita bersatu senasib sepenanggungan. Manusia hanya hidup menurut harkatnya apabila tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan menyumbang sesuatu pada hidup manusia-manusia lain. Sosialitas manusia berkembang secara melingkar yaitu keluarga, kampung, kelompok etnis, kelompok agama, kebangsaan, solidaritas sebagai manusia.  Maka di sini termasuk rasa kebangsaan. Manusia menjadi seimbang apabila semua lingkaran kesosialan itu dihayati dalam kaitan dan keterbatasan masing-masing.

4. Demokrasi

Prinsip “kedaulatan rakyat” menyatakan bahwa tak ada manusia atau sebuah elit atau sekelompok ideologi berhak untuk menentukan dan memaksakan orang lain harus atau boleh hidup. Demokrasi berdasarkan kesadaran bahwa mereka yang dipimpin berhak menentukan siapa yang memimpin mereka dan kemana mereka mau dipimpin. Jadi demokrasi memerlukan sebuah system penerjemah kehendak masyarakat ke dalam tindakan politik.

Demokrasi hanya dapat berjalan baik atas dua dasar yaitu :

  1. Pengakuan dan jaminan terhadap HAM; perlindungan terhadap HAM menjadi prinsip mayoritas tidak menjadi kediktatoran mayoritas.
  2. Kekuasaan dijalankan atas dasar, dan dalam ketaatan terhadap hukum (Negara hukum demokratis). Maka kepastian hukum merupakan unsur harkiki dalam demokrasi (karena mencegah pemerintah yang sewenang-wenang).

5. Keadilan Sosial

Keadilan merupakan norma moral paling dasar dalam kehidupan masyarakat. Moralitas masyarakat mulai dengan penolakan terhadap ketidakadilan. Tuntutan keadilan sosial tidak boleh dipahami secara ideologis, sebagai pelaksanaan ide-ide, ideologi-ideologi, agama-agama tertentu, keadilan sosial tidak sama dengan sosialisme. Keadilan sosial adalah keadilan yang terlaksana. Dalam kenyataan, keadilan sosial diusahakan dengan membongkar ketidakadilan-ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Ketidakadilan adalah diskriminasi di semua bidang terhadap perempuan, semua diskriminasi atas dasar ras, suku dan budaya.

Untuk itu tantangan etika politik paling serius di Indonesia sekarang adalah:

  1. Kemiskinan, ketidakpedulian dan kekerasan sosial.
  2. Ekstremisme ideologis yang anti pluralism, pertama-tama ekstremisme agama dimana mereka yang merasa tahu kehendak Tuhan merasa berhak juga memaksakan pendapat mereka pada masyarakat.
  3. Korupsi

2.5 Dimensi Politisi Manusia

A. Manusia sebagai Makhluk Individu – Sosial

Paham individualisme yang merupakan cikal bakal paham liberalisme, memandan manusia sebagai makhluk individu yang bebas. Segala hak dan kewajiban dalam kehidupan bersama senantiasa diukur berdasarkan kepentingan dan tujuan berdasarkan paradigma sifat kodrat manusia sebagai individu. Kalangan kolektivisme merupakan cikal bakal sosialisme dan komunisme memandang sifat kodrat manusia sebagai makhluk sosial saja. Manusia di pandang sebagai sekedar sarana bagi masyarakat. Segala hak dan kewajiban baik moral maupun hukum, dalam hubungan masyarakat, bangsa dan negara senantiasa diukur berdasarkan filosofi manusia sebagai makhluk sosial.

Manusia sebagai makhluk yang berbudaya, kebebasan sebagai individu dan segala aktivitas dan kreativitas dalam hidupnya senantiasa tergantung pada orang lain, hal ini di karenakan manusia sebagai warga masyrakat atau sebagai makhluk sosial. Manusia di dalam hidupnya mampu bereksistensi karena orang lain dan ia hanya dapat hidup dan berkembang karena dalam hubungannya dengan orang lain. Segala keterampilan yang dibutuhkannya agar berhasil dalam segala kehidupannya serta berpartisipasi dalam kebudayaan diperolehnya dari masyarakat.

Dasar filosofis sebagai mana terkandung dalam Pancasila yang nilainya terdapat dalam budaya bangsa, senantiasa mendasarkan hakikat sifat kodrat manusia adalah bersifat ‘monodualis’. Maka sifat serta ciri khas kebangsaan dan kenegaraan Indonesia, bukanlah totalitas individualistis ataupun sosialistis melainkan monodualistis.

B.  Dimensi Politis Kehidupan Manusia

Berdasarkan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, dimensi politis mencakup lingkaran kelembagan hukum dan negara, sistem – sitem nilai serta ideologi yang memberikan legitmimasi kepadanya. Dalam hubungan dengan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, dimensi politis manusia senntiasa berkaitan dengan kehidupan negara dan hukum, sehingga senantiasa berkaitn dengan kehidupan masyrakat secara keseluruhan. Sebuah keputusan bersifat politis manakala diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Dengan demikian dimensi politis manusia dapat ditentukan sebagai suatu kesadaran manusia akan dirinya sendiri sebagai anggota masyarakat sebagai sutu keseluruhan yang menentukan kerangka kehidupannya dan di tentukan kembali oleh kerangka kehidupannya serta ditentukan kembali oleh tindakan – tindakannya.

Dimensi politis manusia ini memiliki dua segi fundmental, yaitu pengertian dan kehendak untuk bertindak. Sehingga dua segi fundamental itu dapat diamati dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dua aspek ini yang senantiasa berhadapan dengan tindakkan moral manusia.

2.6 Nilai-nilai Terkandung Dalam Pancasila Sebagai Sumber Etika Politik

Sila pertama ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ serta sila kedua ‘ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ adalah merupakan sumber nilai –nilai moral bagi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.

Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, etika politik menuntut agar kekuasaan dalam negeri di jalankan sesuai dengan:

a) Asas legalitas ( legitimasi hukum).

b) Di sahkan dan dijalankan secara demokratis ( legitimasi demokratis)

c) Dilaksanakan berdasarkan prinsip – prinsip moral / tidak bertentangan dengannya (legitimasi moral).

Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki tiga dasar tersebut. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, baik menyangkut kekuasan, kenijaksanan yang menyangkut publik, pembagian serta kewenangan harus berdasarka legitimasi moral religius ( sila 1 ) serta moral kemanusiaan ( sila 2). Negara Indonesia adalah negara hukum, oleh krena itu ‘ keadilan’ dalam hidup bersama ( keadilan sosial ) sebgai mana terkandung dalam sila 5, adalah merupakan tujuan dalam kehidupan negara. Oleh karena itu dalam pelaksanaan dan pnyelenggraan negara, segala kebijakan, kekuasaan, kewenangan, serta pembagian senantiasa harus berdasarkan atas hukum yang berlaku.

Negara adalah berasal dari rakyat dan segala kebijaksanaan dan kekuasaan yang dilakukan senantiasa untuk rakyat ( sila 4). Oleh karena itu rakyat adalah merupakan asal mula kekuasan negara. Oleh karena itu pelaksanaan dan pnyelenggraan negara segala kebijaksanaan, kekuasaan, serta kewenangan harus dikembalikan pada rakyat sebagai pendukung pokok Negara.

2.7  Pengertian Nilai,  Norma, dan Moral

      2.7.1 Pengertian Nilai

Nilai  (value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Jadi nilai itu pada hakikatnya adalah sifat dan kualitas yang melekat pada suatu obyeknya. Dengan demikian,maka nilai itu adalah suatu kenyataan yang tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan lainnya.

Nilai atau “value” (bahas Inggris) termasuk bidang kajian filsafat, persoalan-persoalan tentang nilai dibahas dan dipelajari salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai (Axiology, theory of value). Filsafat sering juga diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai di dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya “kebiasaan” (wath) atau kebaikan (goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tentu dalam menilai atau melakukan penilaian (Frankena, 229)

Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin dan menyadarkan manusia akan harkat, martabatnya. Nilai bersumber pada budi yang  berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem (sistem nilai) merupakan salah satu wujud kebudayaan, disamping sistem sosial dan karya. Cita-cita, gagasan, konsep dan ide tentang sesuatu adalah wujud kebudayaan sebagai sistem nilai. Nilai sosial berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan menekankan pada segi-segi kemanusiaan yang luhur, sedangkan nilai politik berpusat pada kekuasaan serta pengaruh yang terdapat dalam kehidupan masyarakat maupun politik.

Dengan demikian, nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, memperkaya batin dan menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan (motivator) sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial dan karya. Oleh karena itu,  Alport mengidentifikasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan masyarakat pada enam macam, yaitu : nilai teori, nilai ekonomi, nilai estetika, nilai sosial, nilai politik dan nilai religi.

Di dalam Dictionary of sosiology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok, ( the believed capacity of any object to statistfy a human desire). Jadi nilai itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek itu sendiri.Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita – cita, harapan – harapan, dambaan – dambaan dan keharusan.

2.7.2 Pengertian Norma

Norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan motivasi tertentu. Norma sesungguhnya perwujudkan martabat manusia sebagai makhluk budaya, sosial, moral dan religi. Norma merupakan suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi. Oleh sebab itu, norma  dalam perwujudannya dapat berupa norma agama, norma filsafat, norma kesusilaan, norma hukum, dan norma sosial. Norma memiliki kekuatan untuk dapat dipatuhi, yang dikenal dengan sanksi, misalnya:

a. Norma agama, dengan sanksinya dari Tuhan

b. Norma kesusilaan, dengan sanksinya rasa malu dan menyesal terhadap diri sendiri.

c.Norma kesopanan, dengan sanksinya berupa mengucilkan dalam pergaulan masyarakat.

d. Norma hukum, dengan sanksinya berupa penjara atau kurungan atau denda yang dipaksakan    oleh alat Negara.

2.7.3 Pengertian Moral

Moral berasal dari kata mos (mores) yang artinya kesusilaan, tabiat, kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya ,dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral. Jika sebaliknya terjadi, pribadi itu dianggap tidak bermoral.  Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan, prinsip-prinsip yang benar, baik, terpuji, dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral, filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan sebagainya. Nilai, norma dan moral secara bersama mengatur kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya.

2.8   Pengertian Hierarkhi Nilai

Hierarkhi nilai sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandang individu –masyarakat terhadap sesuatu obyek. Misalnya kalangan materialis memandang bahwa nilai tertinggi adalah nilai meterial. Max Scheler menyatakan bahwa nilai-nilai yang ada tidak sama tingginya dan luhurnya. Menurutnya  nilai-nilai dapat dikelompokan dalam empat tingkatan yaitu :

1. Nilai kenikmatan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan indra yang memunculkan rasa senang, menderita atau tidak enak.

2. Nilai kehidupan yaitu nilai-nilai penting bagi kehidupan yakni  jasmani, kesehatan serta kesejahteraan umum.

3. Nilai kejiwaan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebenaran, keindahan dan pengetahuan murni.

4.  Nilai kerohanian yaitu tingkatan ini terdapatlah  modalitas  nilai dari yang suci.

Walter G . everet menggolongkan nilai – nilai manusiawi kedalam delapan kelompok yaitu:

a) Nilai – nilai ekonomis
b) Nilai – nilai kejasmanian
c) Nilai – nilai hiburan
d) Nilai – nilai sosial
e) Nilai – nilai watak
f) Nilai – nilai estetis
g) Nilai – nilai intelektual
h) Nilai – nilai keagamaan

Sementara itu, Notonagoro membedakan menjadi tiga, yaitu :

1.  Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.

2. Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan suatu aktivitas atau kegiatan.

3. Nilai kerokhanian yaitu segala sesuatu yang bersifat rokhani manusia yang dibedakan dalam empat tingkatan sebagai berikut :

a. Nilai kebenaran yaitu nilai yang bersumber pada rasio, budi, akal atau cipta manusia.

b. Nilai keindahan/estetis yaitu nilai yang bersumber pada perasaan manusia.

c. Nilai kebaikan atau nilai moral yaitu nilai yang bersumber pada unsur kehendak manusia.

d. Nilai religius yaitu nilai kerokhanian tertinggi dan bersifat mutlak.

Dalam pelaksanaanya, nilai-nilai dijabarkan dalam wujud norma, ukuran dan kriteria sehingga merupakan suatu keharusan  anjuran atau larangan, tidak dikehendaki atau tercela. Oleh karena itu, nilai berperan sebagai  pedoman yang menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai manusia berada dalam hati nurani, kata hati dan pikiran sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan yang bersumber pada berbagai sistem nilai.

Dari macam – macam nilai, dapat dikemukakan bahwa yang mengandung nilai itu bukan hanya sesuatu yang bewujud material saja, akan tetapi juga sesuatu yang berwujud non material atau immatrial. Notonagoro berpendapat bahwa nilai – nilai pancasila tergolong nilai – nilai kerokhanian, tetapi nilai – nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material dan vital. Dengan demikian nilai – nilai lain secara lengkap dan harmonis, baik nilai matrial, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan atau nilai moral, maupun nili kesucian yang sistematika-hierarkis, yang dimulai dari sila Ketuhanan yang Maha Esa sebagai ‘dasar’ sampai dengan sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai ‘tujuan’.

2.9  Hubungan antara Nilai, Norma dan Moral

Keterkaitan nilai, norma dan moral merupakan suatu kenyataan yang  seharusnya tetap terpelihara di setiap waktu pada hidup dan kehidupan manusia. Keterkaitan itu mutlak digaris bawahi bila seorang individu, masyarakat, bangsa dan negara menghendaki fondasi yang kuat tumbuh dan berkembang.

Sebagaimana tersebut di atas maka nilai akan berguna menuntun sikap dan tingkah laku manusia bila dikongkritkan dan diformulakan menjadi lebih obyektif sehingga memudahkan manusia untuk menjabarkannya dalam aktivitas sehari-hari. Dalam kaitannya dengan moral maka aktivitas turunan dari nilai dan norma akan memperoleh integritas dan martabat manusia. Derajat kepribadian itu amat ditentukan oleh moralitas yang mengawalnya. Sementara itu, hubungan antara moral dan etika kadang-kadang atau seringkali disejajarkan arti dan maknanya. Namun demikian, etika dalam pengertiannya tidak berwenang menentukan apa yang boleh dan tidak  boleh dilakukan seseorang. Wewenang itu dipandang berada di tangan pihak yang memberikan ajaran moral.

2.10 Nilai Dasar, Nilai Instrumental, Nilai Praksis

Dalam kaitannya dengan deriviasi atau penjabaran maka nilai-nilai dapat di kelompokan menjadi tiga macam yaitu nilai dasar, nilai intrumental, nilai praksis.

A. Nilai Dasar

Nilai dasar ini besifat universal karena menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu misalkan hakikat Tuhan, manusia dengan segala sesuatu lainnya. Demikian juga hakekat nilai dasar itu dapat juga berlandaskan pada hakikat suatu benda , kuantital, kualitas, aksi relasi ruang maupun waktu. Demikianlah sehingga nilai dasar dapat juga di sebut sebagai sumber norma yang pada gilirannya di jabarkan atau di relisasikan dalam suatu kehidupan yang bersifat praksis.

B. Nilai Intrumental

Nilai intrumental yang merupakan suatu pedoman yang dapat di ukur dan di arahkan. Bilamana nilai intrumental tersebut berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari maka hal ini merupakan suatu nilai norma. Dan nilai intrumental sendiri juga dapat di katakan bahwa nilai intrumental itu merupakan suatu eksplistasi dari nilai dasar.

C. Nilai Praksis

Nilai praksis pada hakekatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai intrumental dalam suatu kehidupan yang nyata. Artinya oleh karna nilai dasar, nilai intrumental dan nilai praksis itu merupakan suatu sistem perwujutannya tidak boleh menyimpang dari sistem tersebut.

      BAB III

   PENUTUP

3.1 Kesimpulan

                  Etika politik adalah termasuk lingkup etika sosial manusia yang secara harfiah berkaitan dengan bidang kehidupan politik. Pancasila memang tidak boleh dilepaskan dari semua aspek-aspek didalam penyelenggaraan sebuah negara. Dalam pelaksanaan Negara segala kebijaksanaan, kekuasaan serta kewenangan harus di kembalikan kepada rakyat sebagai pendukung pokok negara. Maka dalam pelaksanaan politik praktis hal-hal yang menyangkut kekuasaan ekskutif, legislatif, yudikatif, konsep pengambilan keputusan, pengawasan serta partisipasi harus berdasarkan legitimasi dari rakyat, atau dengan lain perkataan harus memiliki legitimasi demokratis.

Pancasila juga merupakan suatu system filsafat yang pada hakikatnya merupakan nilai sehingga merupakan sumber dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainya.  Suatu pemikiran filsafat tidak secara langsung menyajikan norma – norma yang merupakan pedoman dalam suatu tindakan atau aspek praktis melainkan nilai – nilai yang bersifat mendasar. Sehingga penerapan Pancasila sebagai etika politik wajib dilakasanakan dengan sebaik mungkin.

 

3.2 Saran

Saran saya adalah marilah kita mempelajari Pancasila sebagai etika politik ini dengan sebaik-baiknya, sehingga benar-benar paham. Karena hal ini menyangkut moralitas dan kepentingan masyarakat banyak. Dan marilah kita mencoba mempraktekannya dalam kehidupan berorganisasi dikampus dan dalam kehidupan bermasyarakat.